Sabtu, 03 Desember 2016
Nama Program
- Small Group Discussion: Diskusi yang berupa permasalahan yang dihadapi oleh siswa dan terdiri dari maksimal 2 orang siswa yang tetap didampingi oleh konselor/guru BK.
Tujuan
- Suatu metode untuk memecahkan masalah,
- Menyalurkan pendapat untuk mendapatkan solusi dari permasalahan-nya tersebut,
- Membangkitkan motivasi siswa agar tidak larut dalam masalahnya.
Sasaran
- Kepada siswa/i yang mengalami masalah Broken Home.
Assalamu'alaikum Wr. Wb
Kami dari kelompok 1 2C yang beranggotakan:
- Derry Sulung
- Sarah Samrotul Fadilah
- Aninda Kalias
- Hendra Saputra
- Rizky nugraha
- M. Haris Pirmansah
- Tanti Meidianti
- Kirana Syifaurrahmi
Disini, kami ditugaskan oleh guru Bimbingan dan Konseling untuk menganalisis suatu kasus. Kasus yang kami analisis adalah Broken Home yang terjadi pada salah satu siswa.
Sebelum kita membahas tentang cara mengatasi anak broken home sebagai seorang guru, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu maksud dari kata Broken Home tersebut. Istilah broken home biasanya digunakan untuk menggambarkan keluarga yang berantakan dan anak-anak yang broken home biasanya dikaitkan karena kelalaian orang tua dalam mengurus anaknya atau keluarganya . Namun, broken home bisa juga diartikan dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai dan sejahtera karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran dan berakhir dengan perceraian.
Oleh karena orangtua tidak punya waktu banyak untuk berdialog, berdiskusi atau bahkan hanya untuk saling bertegur sapa. Saat orangtua pulang bekerja, anak sudah tertidur dengan lelapnya dan saat anak terbangun tidak jarang orangtua sudah pergi bekerja atau anaknya yang harus pergi ke sekolah. Ketika anak protes dan mengeluh, orangtua hanya cukup memberikan pengertian bahwa ayah dan ibu bekerja untuk kepentingan anak dan keluarga juga. Orangtua zaman sekarang sering merasa kesulitan mengerti keinginan anaknya, tanpa mereka sadari bahwa orangtualah yang selalu membuat anak harus mengerti keadaan orangtuanya.
Anak yang broken home bukanlah hanya anak yang berasal dari ayah dan ibunya bercerai, namun anak yang berasal dari keluarga yang tidak utuh, dimana ayah dan ibunya tidak dapat berperan dan berfungsi sebagai orangtua yang sebenarnya. Tidak dapat dimungkiri kebutuhan ekonomi yang semakin sulit membuat setiap orang bekerja semakin keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Namun, orangtua seringkali tidak menyadari kebutuhan psikologis anak yang sama pentingnya dengan memenuhi kebutuhan hidup. Anak membutuhkan kasih sayang berupa perhatian, sentuhan, teguran dan arahan dari ayah dan ibunya, bukan hanya dari pengasuhnya atau pun dari nenek kakeknya.
Langganan:
Komentar (Atom)
